28 Feb 2016

No, You Can't Be My Writing Muse

Hey, you...

It's been a long time since I wrote to you. I won't ask if you do miss me. Is it important? We've been getting use to all this distance that much, haven't we?

Lately, I don't write much. Weird, isn't it? Jakarta only means one thing: time consuming routines. Here in this city, time seems to move so fast, yet it doesn't provide space for us to, at least, enjoy all of its moves with dancing. No, we are running in that moves.

Sad, isn't it?

But, still, I choose to be happy. And, anytime I could, I will stop running and starting to walk. Like this time, when I'm writing you this letter.



***
There was a bestseller writer talking about writing muse on twitter some days ago. I read one of her books, but that's not my cup of tea. Sometimes I wonder why some books could amaze many people but not others. About this, my bestfriend knows the answer: habent sua fata libelli - each book has its own destiny. Maybe her books aren't destined for me.

Ok, I know you're not into writing. I am. But please, bear with me, I just found that her sayings about writing muse are interesting. Then, I promise, after this we can talk about football again.

So, here is the thing: She says that every writer has his/her writing muse.

Muse, this word came from Greek traditions. That's how people call the goddess of inspirations. Ah, I know you love Greek mythology. Remember when we walked from the town center last year, talking about gods and goddesses, only because we found Athena in one pound coin? Well, these muses are goddesses like Athena, Aprodhite, Helen or Hera. There are nine of them, help those who work on arts or literature or science by giving them inspirations.

Now the word 'muse' refers to anything or anyone that brings inspirations.

You might start to wonder why this muse things matter. It's because I started to think who or what my writing muse is. Some people indeed write so much when they are falling in love, missing someone, or having their heart broken. As for me, falling in love and missing you always brings me words to write. So, are you my writing muse?

The answer is as clear as the summer sky.

But, then, I pondered out everything. If you are my writing muse, my only writing muse, I am in a dangerous situation. I know I'm not a professional writer, I haven't published any book whatsoever, but, still, I write. And I  want to write about anything. About rain and its petrichor. About grass and dandelions. About cities I've visited and countries I dream about. About public transportations and random people. About new published books and faraway bookstores. About old letters and fairytales. About anything. You may name it.

So, if having you as my writing muse means I can only write about you, for you and because of you, can I be called a writer?

I want to write with or without you.

No, you can't be my writing muse. I even prefer not to have writing muse at all.

I know I use to write about you. But I train myself not to. All in all, I think I want you to know this, everytime I don't write about you, for you and because of you, it doesn't change anything. You're still in my mind that much. You're still in my heart that much. You're still you and I'm still I.

I only can promise you this: your name is going to be in the dedication page of my soon to be published book. Isn't it exciting enough? Or do you want to use pseudonim? You can choose any name if you want^^

And, you know what, I just remember that muse is the name of your favourite band. I remember how sad you were when you had no chance to go to their concert last year.


***

I know I'm not your muse either. I'm happy for that. Let yourself become your own muse, not others. And I know you'll be alright, with or without me. Or, maybe, you can let football become your muse. Like what happens this year, nothing is more inspirational that Leicester City, isn't it?. The Foxes gains three more points this weekend. Do you remember them last year? Almost going back to the second division. You surely can let things like these become your muse.

By the way, in case you're wondering if I'm serious about kicking you out of my writings. No, I won't. Maybe once in a while I still will write about you.

Honestly, I like the idea of you wait for your appearance on my writings.

I hope you are forever happy. I hope you get all the inspirations you need, with or without muse.





27 Feb 2016

Rumah Jalan Hazelwood [2]

Akhir-akhir ini waktu terasa seperti berlari. Begitu cepat. Rasanya seperti berada dalam mobil yang dipacu begitu kencang. Bedanya, kecepatan membuat pemandangan menjadi kabur. Sementara waktu, tak selalu ia menghapus ingatan, karena ada hal-hal yang justru dikekalkan oleh waktu yang berlalu.

Misalnya saja, ingatan tentang rumah itu. Kami menyebutnya Rumah Jalan Hazelwood. 

Siapa yang mengira sudah lima bulan kami meninggalkan rumah berlantai dua dan berkamar lima itu. Rasanya baru kemarin kami membuka pintunya untuk pertama kali, mengatur ruang demi ruang, sudut demi sudut, seakan rumah itu akan selamanya kami tinggali. Padahal di rumah itu, kami hidup dengan jam Ctesibus. Pada jam itu, pasir di tabung atas akan habis mengalir ke tabung bawah dalam waktu tiga bulan.

Hanya tiga bulan. Tapi kami tidak peduli. Kami menjalani hari, seakan selamanya adalah milik kami.

Memang ada orang-orang yang menghindari kedalaman hubungan, karena resikonya adalah perpisahan.Ada pula yang takut membuat kenangan, karena resikonya adalah kehilangan. Tapi di Rumah Jalan Hazelwood, kami memeluk perpisahan. Di akhir perjalanan, kami saling melambaikan tangan sambil menghapus air mata. Tapi kami tetap saja banyak tertawa. Dan soal kehilangan, kami menerjemahkannya begini: kebersamaan pada akhirnya hanya berubah bentuk. Kami tidak pernah mengalami kehilangan, waktu telah mengubahnya menjadi kenangan dan rindu.

Seperti sekarang, ketika Rumah Jalan Hazelwood muncul di ingatan, kami akan mengenangnya dengan bahagia. Kami beruntung, karena kami tahu kami tak perlu melupakan apapun. Kami tidak hanya mengenang mainan ikan paus di kamar mandi, tapi juga malam-malam ketika tiga gadis penghuni rumah berbagi air mata. Kami tidak hanya mengenang senja yang kami lihat dari pekarangan belakang, tapi juga hari-hari ketika dua orang penghuni kamar bawah bertengkar. Meskipun tentu saja, kami lebih sering mengingat hal-hal lucu, seperti penghuni kamar tengah yang tidur dengan baju hangat lengkap dengan kaos kaki di musim panas, atau bagaimana dia sering berlagak menjadi perayu ulung.

Ternyata, kami masih sekumpulan orang-orang yang tak peduli. Kami mengenang, seakan kenangan selamanya milik kami.




p.s.: Catatan pertama Rumah Jalan Hazelwood bisa dibaca disini

24 Feb 2016

Untuk Anne

Halo Anne,

Bagaimana kabarmu? Lama sekali kita tidak bertemu. Berapa tahun ya? Mungkin dua atau tiga tahun. Sejak lulus SMA, kita memang jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Apalagi sejak kamu menikah dan pindah ke Kalimantan bersama suamimu.

Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa aku tiba-tiba mengirim surat untukmu. Aku tidak punya alasan tepat, mungkin aku hanya ingin mengenang masa-masa kita begitu dekat. Apa kamu ingat, dulu setiap pulang sekolah aku selalu mencarimu. Memakai setelan celana monyet, kita berjalan-jalan ke area persawahan, sampai ke sungai yang membatasi desa kita dengan desa tetangga. Kita tumbuh bersama, melakukan banyak hal bersama, termasuk belajar naik sepeda dan memanjat pohon. Kau adalah saksi saat aku tercebur ke selokan, dan aku adalah penolongmu saat kau ketakutan karena dikejar angsa. Waktu itu, yang memisahkanku darimu cuma panggilan Bapak yang menyuruhku pulang untuk tidur siang atau belajar.

Lalu kamu pindah ke Surabaya dan menghabiskan masa SMP-mu disana. Kita tetap menjadi sahabat pena. Suratmu selalu menjadi hal yang paling aku tunggu, bahkan, sampai sekarang aku masih menyimpan semua suratmu itu. 

Seingatku kita sudah berhenti mengirim surat sejak kamu kembali ke kota kita. Kita masuk ke SMA yang sama, lalu kita menjalani takdir yang berbeda setelah lulus. Aku kuliah ke ibukota propinsi, sementara kau bekerja lalu menikah dengan pria pilihan kakakmu.

Baiklah, tentu saja sebenarnya aku punya alasan kenapa aku tiba-tiba menulis surat lagi untukmu. Tapi, kumohon, jangan merasa marah atau tersinggung.

Anne, belakangan di koran sedang ramai sekali soal penertiban kawasan pinggiran Kalijodo. Aku tidak tahu apakah kamu membaca koran, tapi aku pikir, setidaknya kamu pernah melihat beritanya di televisi. Kalijodo itu, entah sejak kapan, menjadi salah satu kawasan prostitusi di Jakarta untuk kalangan menengah ke bawah. Aku belum pernah kesana, tentu saja, tapi aku membayangkan disana ada puluhan wanita yang menukar tubuhnya dengan beberapa lembar rupiah, sekedar untuk bertahan hidup.

Aku jadi teringat ibumu, wanita tangguh itu.

Kamu memang tidak pernah dengan gamblang bercerita tentang pekerjaan ibumu. Kamu cuma bilang ibumu menjadi penjaga toko di Jogja, hanya pulang seminggu sekali. Sampai akhirnya aku tahu, ibumu bukan penjaga toko, ibumu adalah seorang bunga raya, seperti perempuan-perempuan di Kalijodo itu. Ibumu, sendirian, menanggung beban menghidupi tiga orang anak, satu keponakan, juga nenekmu yang beranjak tua, sementara suaminya, bapakmu, pergi entah kemana.

Tapi, Anne, aku beruntung mengenalmu, mengenal ibumu. Di luar apakah yang ibumu lakukan itu benar atau salah, kalian adalah perempuan-perempuan luar biasa. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi anak pekerja seks komersial. Tapi seingatku kamu tidak pernah mengeluh, kamu menerima takdirmu dan berjalan dengan kepala tegak. Kamu menyelesaikan sekolahmu, bahkan menjadi salah satu siswa berprestasi. Seandainya kamu cukup beruntung, kamu pasti bisa melanjutkan ke universitas. Tapi lagi-lagi, kamu harus menyerah. Malam-malam yang ibumu habiskan dengan entah berapa laki-laki tidak cukup membawamu ke bangku kuliah.

Hidup ini memang tidak selalu tentang apa yang kita inginkan ya, Anne.

Oh ya, Bapak dan Ibu masih sering menanyakanmu. Seperti Ibumu, Ibuku juga perempuan luar biasa. Mungkin tidak semua orang tua membiarkan anak gadisnya bersahabat dengan anak seorang pelacur. Sama sepertiku, mereka juga tidak terlalu peduli apakah apa yang dibicarakan tetangga-tetangga tentang ibumu itu benar. Tapi, mereka membiarkan aku membagi hidupku denganmu. Kamu bahkan sudah seperti anak mereka sendiri. Bukankah kita berdua adalah dua anak perempuan yang beruntung?

Kita beruntung walaupun mungkin memang kita hanya sahabat semasa kecil dan remaja. Beranjak dewasa, kita punya sahabat-sahabat baru. Tapi, apakah selama itu aku sudah menjadi sahabat yang baik untukmu? Mungkin tidak. Buktinya kau tidak pernah bercerita tentang pekerjaan Ibumu. Aku sungguh bisa paham kalau kau tidak percaya padaku, atau mungkin membicarakan hal itu sudah terlalu menyakitkan untukmu. Pantas saja, yang kita lakukan dulu cuma bermain pasar-pasaran, mencari bunga rumput di ladang tetangga, atau berbagi segelas es krim di sore yang panas. Tapi tak apa, aku mungkin tidak bisa ikut menanggung kesedihanmu, tapi setidaknya kita banyak menciptakan hal-hal menyenangkan untuk membuat langkah-langkah kita lebih ringan.

Oh ya, bagaimana kabar ibumu saat ini? Aku dengar dia sudah tidak lagi menjalani profesinya dulu. Selain karena ibumu sudah berumur, kalian, anak-anaknya juga sudah dewasa. Kalian tentu sudah bisa menanggung perempuan yang menghabiskan tidak hanya darah dan air mata, tapi juga harga dirinya untuk kalian. 

Anne, di surat ini aku cuma ingin bilang, aku senang bisa mengenalmu, bahkan bersahabat denganmu. Aku mungkin tidak bisa lagi membuatkanmu mahkota dari bunga rumput, seperti yang sering aku lakukan dulu. Tapi, Anne, jangan khawatir, setiap perempuan memakai mahkota tidak kelihatan di kepalanya. Kamu, aku, ibumu, ibuku, juga perempuan-perempuan lain.

Jadi, apapun yang terjadi dengan hidup kita saat ini, tetaplah berjalan tegak seperti Anne yang dulu. Jangan pernah berjalan dengan kepala menunduk, nanti mahkotamu jatuh...

Yang merindukanmu,

Georgina



P.s: Kau masih ingat kan cerita Lima Sekawan kesukaan kita? Kita sering membayangkan kita menjadi bagian dari kelompok detektif remaja itu. Kau menjadi Anne, si lembut yang keibuan. Sedangkan aku, siapa lagi kalau bukan Georgina, si tomboi pemarah yang serampangan.

18 Feb 2016

Surat #9: Untuk Bunga-Bunga Anggrek Ibu

Rasanya selalu menyenangkan melihat kalian berbunga: ungu, kuning, putih, hijau, polos, bergaris, besar, kecil. Beberapa dari kalian Ibu taruh di dekat jendela, jadi aku bisa melihat kalian dari ruang tamu, juga dari tempat tidurku di kamar lantai atas. Beberapa yang lain dijajarkan rapi di taman kecil depan rumah kami, bersama pot-pot kamboja jepang dan euphorbia.

Melihat kalian sering sekali berbunga, Ibu pasti merawat kalian dengan baik. Tahukah kalian, merawat kalian adalah kesukaan Ibu? Bersama kalian, Ibu sering sekali lupa waktu. 

Jadi, bagaimana rasanya dirawat oleh perempuan paling penyayang?

Oh, bukan berarti aku tidak tahu jawabannya. Bagaimanapun, kita sama-sama tumbuh karena sentuhan tangan yang sama. Salah satu Saudara jauh kami sering bilang Ibu bertangan dingin. Menurut dia semua tanaman yang dirawat Ibu pasti tumbuh dengan baik. Jangankan kalian, bahkan deretan bawang merah, kangkung dan cabe di taman atap juga berhasil Ibu besarkan. 

Kalian tahu, salah satu kenangan terbaik dengan Ibu adalah saat-saat kami menantikan pohon apel, jambu dan sawo yang ia tanam dalam pot berbuah. Di saat aku sudah tidak sabar memetik buah-buah itu, Ibu mengajar aku menunggu. Beliau bilang hasil ketidaksabaran hanyalah sesuatu yang, walaupun bisa didapat, tapi tidak bisa dinikmati. Jadi aku menunggu, menunggu, dan menunggu, sampai Ibu bilang sudah waktunya buah-buah itu dipanen. 

Ibu memang salah satu perempuan paling sabar yang pernah aku kenal. Tidak hanya dengan Bapak, aku dan kakak-kakak. Tapi juga dengan murid-muridnya. Termasuk dengan anggrek-anggrek kesayangannya. Misalnya begini, kami bukan keluarga kaya yang bisa membeli anggrek berharga ratusan ribu. Jadi Ibu memilih memelihara kalian dari bibit, sampai kalian bisa keluar dari botol, dipindahkan ke pot kecil, tumbuh, dipindahkan ke pot besar dan kemudian berbunga. Entah ketelatenan level berapa yang Ibu miliki sebagai seorang perempuan.

Dari kalian juga, Ibu banyak mengajarkan aku tentang menjadi perempuan sederhana namun berkelas. Menurut Ibu, anggrek itu tidak neko-neko, tapi dia tidak mudah didapat dan dirawat. Itulah kenapa harganya mahal. Anggrek bukan bunga murahan, walaupun dia tidak perlu menghias dirinya dengan warna-warna menyala untuk bisa jadi elegan. Dia juga tidak perlu memiliki aroma yang kuat agar orang-orang terpikat. Di mata Ibu, anggrek memiliki kecantikan yang tenang, misterius tapi menarik.

Kesederhanaan perempuan adalah kekuatan yang tidak terbantahkan, begitu kata Ibu.

Sungguh kalian adalah makhluk-makhluk beruntung. Kalian masih bisa bertemu Ibu setiap hari, sementara aku harus menunggu sampai hari libur tiba. Pasti setiap sore, kalian masih sering bercakap-cakap dengan Ibu kan? Apakah Ibu sering bercerita tentang aku? Aku bisa menebak, pasti Ibu akan bercerita lagi tentang kenakalan masa kecilku yang sering mencuri bunga untuk bermain putri-putrian. Atau tentang kakakku yang juga menanam anggrek seperti Ibu tapi anggreknya jarang sekali berbunga. Pasti menyenangkan melewatkan sore bersama Ibu, juga Bapak, mengenang peristiwa yang sudah lewat.

Jadi, sore ini, jika Ibu sedang bersama kalian, tolong sampaikan ya, aku rindu Ibu. Rindu sekali.


17 Feb 2016

Surat #8: Untuk Laki-Laki Rembulan

Kita sudah saling mengenal sejak remaja, tapi aku tidak pernah tahu namamu berarti Rembulan. Adikmu yang memberitahu aku. Adikmu juga yang menceritakan bagaimana kamu jatuh cinta padaku dulu.

Kata adikmu itu, semua berawal ketika kita bertemu secara kebetulan di bis antar kota. Siang itu kita sama-sama dalam perjalanan pulang ke kota kecil kita. Duduk bersebelahan, kita banyak bercakap. Menurut adikmu, percakapan itu menggugah hatimu. Padahal seingatku, kita hanya bicara tentang hal-hal tidak penting, misalnya saja film Before Sunrise, novel yang sedang kita baca dan puisi-puisi kesukaan.

Terus terang aku sudah lupa tentang detail percakapan kita.

Sepertinya kamu tiba-tiba saja sudah duduk di depanku dan mengungkapkan perasaan. Perasaan yang tidak pernah bisa aku balas.

Mungkin karena kamu Rembulan. Rembulan yang tenang bergerak dalam kegelapan. Sunyi dan temaram. Sementara aku, aku mencintai Matahari. Matahari yang menyinari langit dan membuatnya kebiruan. Matahari yang hangat dan bersemangat.

Selama ini kamu menyebutku gadis hujan, karena katamu setiap kita bersama hujan selalu turun. Kamu menyukai hujan. Tapi bagaimana kalau hujan itu adalah pertanda kesedihan. Mungkin kesedihanmu. Mungkin juga kesedihanku.

Karena kamu selama ini begitu baik. Dan aku begitu keras kepala.

Tapi kamu dan kesabaranmu tetap merangkai kata-kata untukku. Dalam lembar-lembar berwarna biru. Dalam kepulan asap dari gelas-gelas kopi. Dalam setumpuk kenangan yang tak pernah dibicarakan. Selalu, kamu tulis puisi-puisi itu untukku.

Sementara aku selalu menulis tentang Matahari.

Berpuluh-puluh puisi kamu tulis, dan aku tidak pernah tahu kamu menulis tentang aku. Kupikir kamu bicara tentang gadis manis berpayung ungu yang sering lewat di depan kantormu. Lagipula gadis di puisi-puisimu bernama Maya. Dan namaku bukan Maya.

Tapi aku bisa mengerti kalau bagimu aku memang sekedar ilusi.

Rembulan, mengingatmu selalu mendatangkan perasaan manis. Pun bertemu denganmu, bicara di kedai kopi (walaupun aku tetap saja meminum teh), memperlihatkan daftar bacaan dan bertukar puisi. Meskipun bagiku kamu tak pernah jadi matahari, dan bagimu aku masih saja ilusi.

Tapi kamu tetap jadi Rembulan yang baik hati.

Ah sudahlah. Aku tidak tahu kenapa aku menulis semua ini.

Jadi bagaimana kalau kita bicara tentang Before Midnight. Dibandingkan Before Sunrise dan Before Sunset, film ini rasanya lebih rumit dan Ethan Hawke kelihatan jauh lebih tua. Bagaimana menurutmu? Apa kamu setuju?

Oh ya, kadang aku masih memutar Come Here dan A Waltz for A Night sambil menulis puisi. Kalau kamu, apakah kamu masih suka minum kopi dan menggali inspirasi di malam hari? Aku juga sedang membaca Tale of Two Cities milik Charles Dickens. Bagaimana denganmu? Buku apa yang sedang kau baca?

Dan bagaimana kabar gadis manis berpayung ungu itu?

Rembulan, aku berdoa antologi puisi yang kau tulis berikutnya sudah bukan lagi tentang aku. Semoga tentang rumpun bambu dan kersik daun yang menemanimu melewati malam. Atau tentang bintang yang meski redup tapi setia. Tentang apa saja. Asal bukan lagi tentang aku.

Semoga harimu indah. Semoga hujan tak lagi sering turun.





10 Feb 2016

Surat #7: Untuk Vincent Van Gogh

Dear Vincent,

Tentu kau tidak akan pernah membaca surat ini. Bahkan jika waktu itu kau tidak memutuskan untuk menembakkan pistol itu ke bagian atas perutmu, tetap saja kau tidak akan pernah membaca surat ini. Kita memang hidup di dua masa yang terpisah begitu lebar dengan banyak peristiwa diantaranya. Tapi, aku tetap saja ingin menulis surat untukmu.

Jujur saja, meskipun kau masuk dalam daftar pelukis favoritku, namamu tidak berada di urutan pertama. Untuk seorang awam sepertiku, lukisan-lukisan Claude Monet rasanya lebih menyentuh. Mungkin karena kesannya lebih lembut dan romantis, sementara lukisanmu kadang misterius dan sedih. Tapi Vincent, aku selalu ingin mengenalmu lebih dari aku ingin mengenal Monet. Entah kenapa.  Mungkin karena kau terlihat eksentrik dengan topi jerami dan pipa itu, mungkin karena kau memotong telingamu sendiri, atau mungkin karena kau bilang kau bunuh diri.

Kau memang tidak mengenalku, Vincent. Tapi kau perlu tahu, di masaku ini, setiap orang yang jatuh cinta dengan lukisan tahu siapa kau. Meskipun begitu, aku tidak mengenalmu dari galeri seni. Aku justru pertama kali mendengar namamu dari dari Josh Groban. Lagu-lagu pemuda bersuara bariton ini banyak mengisi hari-hariku ketika aku berusia belasan. Dia menyanyikan satu lagu lama yang kemudian menjadi salah satu kesukaanku. Judul lagu itu seperti namamu, dan lagu itu juga menyebut-nyebut salah satu lukisanmu, lukisan tentang bintang-bintang yang dulu kau lukis di asilum St. Paul, jauh di pelosok St. Remy-de-Provence, Perancis. Dari semua lukisanmu, aku paling suka dengan lukisan itu.

Gambar dipinjam dari sini

Jadi sebelum aku berangkat ke Eropa, aku sudah memutuskan aku harus kembali ke Amsterdam dan mengunjungi museum yang menyandang namamu. Ini adalah harapan no. 8 di daftar bucket list yang pernah kubuat.

Akhirnya awal tahun lalu aku bisa mengunjungi tempat itu dan masuk lebih dalam ke hidupmu. 'Vincent, mengapa kau memutuskan mati?' adalah pertanyaan yang aku bawa ketika aku memasuki museum yang terletak di Paulus Potterstraat 7, Amsterdam, itu. Kau yang melukis keindahan ladang gandum, rangkaian bunga matahari dan ranting-ranting almond blossom pasti mengerti bahwa dunia ini tidak separah kelihatannya. Tapi hidupmu mungkin memang berat. Kau banyak melukis tapi sepanjang hidupmu hanya ada satu lukisan yang terjual. Kau juga mungkin merasa menjadi benalu karena hidup bergantung pada adikmu. Entahlah, Vincent. Kadang aku merasa aku terlalu naif memandang dunia ini.

Tentang karyamu, di museum ini aku tidak menemukan The Starry Night yang menjadi kesukaanku. Karyamu yang satu itu berada di kota, yang menurut Frank Sinatra, tidak pernah tertidur. Ya, dia ada di New York, Amerika Serikat. Pernahkah kau membayangkan lukisanmu akan melakukan perjalanan ke tempat sejauh itu? Menurutku tidak. Kau tahu, aku belum pernah mengunjungi kota itu dan sebelumnya aku tidak punya alasan untuk kesana. Tapi untuk melihat lukisanmu itu, aku pikir aku perlu menginjakkan kaki di kota itu suatu hari nanti.

Tapi bahkan tanpa melihat The Starry Night, rumah karyamu di Amsterdam itu sangat menarik. Aku membutuhkan waktu tiga jam lebih untuk menikmati setiap lukisan, membaca setiap keterangan dan merenungi semuanya.

Di lantai pertama aku dikejutkan dengan lukisan-lukisanmu yang cenderung gelap. Aku tidak tahu apapun tentang teknik melukis, walaupun aku tahu aku penggemar aliran impresionis dan pasca impresionis. Aku tidak begitu mengerti tentang permainan cahaya atau bayangan atau sapuan kuas. Aku hanya merasakan warna dan tema. Aku merasakan cerita yang ada di dalamnya. Tapi sungguh, Vincent, melihat lukisanmu yang berubah, aku tahu dirimu juga berubah. Paris mengubahmu, memberi warna dan cerita-cerita baru pada kanvasmu. Bahkan kelemahan jiwamu juga memberi ruang pada ekspresi-ekspresi baru di karya-karyamu.

Aku tahu, pada akhirnya ini adalah tentang melakukan apa yang kau benar-benar kau sukai.

Tapi, Vincent, mengapa kau memutuskan mati?

Karena ketika aku membaca surat-suratmu untuk ayah, ibu dan kakak-kakakmu, aku menemukan pria yang perhatian dan lembut hati. Mereka masih memiliki manuskrip surat-suratmu itu. Kau menulis surat secara berkala, kadang dalam bahasa Perancis kadang bahasa Belanda. Kau menceritakan hari-harimu di Perancis, apa yang kau lihat, apa yang kau rasa. Aku suka pilihan katamu, Vincent. Tahukan kau kalau kau sangat deskriptif? Mungkin karena ini pula kau bisa membuat lukisan yang begitu kaya.

Jadi, sekali lagi, mengapa kau memutuskan mati? Dan mengapa kau membawa misteri kematianmu itu sampai ke dalam kubur?

Karena, tahukah kau, ada anggapan saat itu kau tidak bunuh diri. Orang bilang, ada segerombolan anak-anak yang bermain dengan pistol dan tanpa sengaja menarik pelatuknya hingga pelurunya menembus tubuhmu. Kau terlalu lembut hati untuk membiarkan anak-anak itu menjadi penyebab kematianmu.

Jadi, karena itukah kau memutuskan mati? Untuk membawa rahasiamu sendiri?


A Mumbling in the Afternoon

Keeping in mind that you are one of the few people I can share foot-paces on the roads and pathways, from London's classy Piccadily until Jogjakarta's traditional Malioboro, I know that you wouldn't be amazed if I told you that yesterday I walked from Bundaran Hotel Indonesia to Dukuh Atas. I know Jakarta is not a fascinating place to spend our time in the sidewalk. But I do love padding along, and that afternoon I was yearning for the feeling we use to get when we go on foot.

That was weird, I know.

I also still remember the time you called me 'nerd' because I spent a whole night alone in Starbucks. I was in Birmingham, a city I know only a little about. Michael Buble's concert I attended ended far after the last train departed. I decided to wait for the very first train in the next morning in that coffee shop, having no sleep at all. I was all alone. I went to that concert by myself since I found no one to accompany me. I didn't know where to go but google maps helped me so.

You never ask me whether I am afraid to go somewhere alone. Maybe because you know that fear rarely appears on my mind, adventure is.

Writing this and recall how you response on my nerdiness, I finally understand why you looked like you were unworried when I sneaked away. Now I know why you only laughed when I told you I went alone to Sherwood Forest, far in the deep of Nottinghamshire, by bus, from a town I knew nothing before. I never told you that I almost got lost in that forest. Walking alone in the pathway when the sun was about to go down and the sky was super gloomy, I saw no one and decided to get back and took another route. I never told you, but if I did, I knew that you would say that I would be able to handle that.

I really appreciate it when you said you learned much about traveling from me, since I don't know  that throwing myself into adventures I never planned is a kind of dauntlessness or it is a stupidity.

It is true that sometimes you raise your eyebrows on my doings, like going alone to strange places or buying Radley sunglasses which price made us stumble. But you always believe that I will be alright, and that I make right decisions. Do you believe that one of my friend ever told me that I was better not to be too strong and independent? Still, I can't pretend that I am a typical ordinary girl who depend on other people, always going somewhere in group, not able to read map and slow to make decisions. Well, honestly, sometimes I want you to worry about me, yet it doesn't bother me if you don't.

To walk with you and get to know you moment by moment, journey by journey, is such an adventure itself. I know I will be alright for I am always be able to be my self whenever and wherever I am with you. Even though it means that this strong willed, stubborn, and curious girl does not need you as much as she needs herself. But, this, exactly, what makes you feel alright, doesn't this?



9 Feb 2016

Surat #6: Untuk Madrid

Hola, Madrid. Bagaimana kabarmu?

Ada yang sedang ingin aku ceritakan padamu. Akhir-akhir ini ada satu lagu berbahasa Spanyol yang sering aku dengar. Alasannya sederhana, hanya karena di lagu itu ada kalimat ini:

porque nada es importante
cuando hacemos los recuerdos por las calles de Madrid

Because nothing is important
When we make memories on the streets of Madrid

Dan kalimat itu membuatku mengenang satu hari yang kulewatkan di jalananmu. Satu hari yang membuat aku jatuh cinta padamu. Entah kenapa.

Mungkin karena ketika aku mendarat di Aeropuerto Adolfo Suárez Madrid-Barajas, sekitar tengah malam, saat itu sedang hujan. Hujan yang rintiknya seperti kesepian, perlahan dan malu-malu. Di tengah hujan awal musim semi itu, aku dan temanku berputar-putar mencari hostel, menyusuri jalanan yang basah dan kerumunan orang yang berteduh. Kami sempat heran karena kau masih begitu riuh ketika hari sudah menjelang pagi.

Keesokan harinya kami lebih heran lagi karena kami menemuimu begitu sunyi. Matahari belum terbit benar dan udara masih menyisakan kesan musim dingin. Tidak ada yang lebih sendu dari berdiri di bawah lampu-lampu yang bersinar kekuningan di kawasan Palacio Real. Pagi itu, patung raja-raja di Plaza de Oriente masih serupa bayangan. 

Apakah sekarang kamu masih seperti itu? Sunyi di pagi hari dan riuh di malam hari?

Apakah dandelion masih banyak tumbuh di Cybele Palace? Mungkin tidak. Sepertinya dandelion yang aku temukan disana waktu itu memang hanya kebetulan tumbuh. Tapi sampai sekarang dandelion itu masih jadi dandelion paling besar dan paling indah yang pernah kutemui. Di negeriku, dandelion jarang tumbuh, dan kalaupun ada, mereka lebih mungil dan lebih rapuh.

Madrid, aku merindukanmu. Aku rindu berjalan di lorong-lorong Plaza Mayor, di antara para pedagang souvenir yang ribut. Pelajaran bahasa Spanyol yang pernah kuambil tidak cukup menolongku memahami mereka, tapi aku bisa merasakan gairah khas pada apa yang mereka katakan. Aku juga rindu berdiri di Puerta del Sol, memandang patung beruang dan pohon madron yang menjadi lambang kota. Patung itu adalah titik Madrid 0 km. Di Paris, mereka yang berdiri di titik 0 km dekat Cathedral Notre Dame, akan kembali ke kota itu suatu hari nanti. Bagaimana denganmu? Apakah sama? Karena aku tidak juga mendapat kesempatan kembali.

Tapi aku berjanji akan kembali. Mungkin aku akan mengajak Bapak nanti. Kau ingat, ketika aku berdiri di depan Estadio Santiago Bernabeu, aku menangis sekaligus tertawa. Itu karena aku ingat Bapak. Bapak dan kegilaannya pada sepak bola. Oh, Bapak bukan penggemar Real Madrid. Akulah yang Madridista. Tapi Real Madrid selalu tentang kenangan dengan Bapak, tentang masa-masa aku melewatkan masa remaja menonton pertandingan sepak bola hanya berdua. Jadi kalau aku nanti, sekali lagi, pergi kesana, aku ingin mengajak Bapak.

Sampai dengan saat itu, Madrid, aku akan belajar bahasa Spanyol. Iya, selama ini sepertinya aku memang kurang berusaha. Aku masih saja kesulitan menghafalkan konjugasi-konjugasi itu, belum lagi membedakan apakah sebuah benda masuk kategori laki-laki atau perempuan. Tapi lihat saja, aku akan berusaha, agar nanti saat aku kembali, aku tidak hanya membuat kenangan denganmu, tapi juga dengan mereka yang selama ini tinggal dalam keteduhanmu.


5 Feb 2016

Surat #5: Untuk Seorang Gadis Yang Patah Hati

Ini yang ingin kukatakan padamu:
I've been there. Done that.

Aku tahu bagaimana rasanya memupuk harapan, tidak sehari dua, tapi menahun. Aku tahu bagaimana rasanya menunggu, sampai seakan aku tak lagi bisa merasakan waktu. Aku tahu bagaimana rasanya mengartikan setiap pertanda, bertanya apakah dia juga merasakan hal yang sama.

Tapi aku juga tahu bagaimana rasanya tidak dipilih. 

Sakit.

Sudah kubilang padamu:
I've been there. Done that.

Jadi sekarang, dengarkan nasehatku.

Ini bukan salahnya, ini salahmu. Maaf, aku tidak bisa bicara lebih lembut dari itu. Tapi memang tidak ada gunanya kau melempar semua penyebab rasa sakitmu padanya. Dia bisa saja menggodamu dengan semua rayuan dari seluruh penjuru mata angin, tapi bukan dia yang membuatmu jatuh. Ingatkah, dia tidak pernah berjanji. Kau yang memutuskan untuk jatuh dan hanyut pada dugaanmu. Kau yang memegang kendali hatimu sendiri.

Jadi, terimalah kenyataan dan berhentilah berharap. Dia tidak akan kembali. Kau tidak perlu membuka ponselmu dan membaca pesan-pesan yang pernah dia tulis. Atau, jangan-jangan, kau masih memasang foto kalian berdua disana? Hapus itu. Tidak ada gunanya. Semua kenangan memang manis disimpan, tapi kau tak perlu menggalinya hanya untuk mendapati dirimu sendiri terkubur di dalamnya.

Bangkitlah dari gundukan kenangan dan tinggalkan.

Dulu, itu yang aku lakukan.

Tahukah kau aku memilih tidak mendengar lagu cinta dengan sengaja? Aku juga tidak menyentuh film komedi romantis selama beberapa waktu. Aku berhenti mencari tahu tentang dia, termasuk juga berhenti mengamati akun media sosial gadis yang dia pilih. Lalu, percayakah kamu, aku juga menghapus semua kontaknya, semuanya. Aku tak lagi bisa menjangkaunya. 

Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, mungkin itu yang ada di pikiranmu sekarang.

Mungkin benar. Tapi aku sudah membiarkan hatiku menguasai akal sehatku sekian lama. Sekarang saatnya melakukan sebaliknya.

Kukira kau perlu melakukan hal yang sama.

Turutilah nasehatku: tetaplah berjalan, meski hanya untuk sekedar bertahan. Peluklah lukamu dan akrablah dengan pilu, tapi jangan menoleh ke belakang. Tidak ada yang bisa diubah disana. Termasuk keputusannya untuk tidak memilihmu.

Bersabarlah pada dirimu sendiri. Mungkin tidak hari ini, tapi, suatu hari nanti, kau akan menoleh ke belakang dan terheran-heran. Karena apa yang dulu begitu menyiksamu, kini tak lagi. Karena apa yang dulu begitu berarti, kini tak lagi.

4 Feb 2016

Surat #4: Untuk Musim Gugur

Musim gugur, kita memang sudah beberapa kali bertemu. Pertemuan pertama kita terjadi di negeri cahaya. Waktu itu untuk pertama kalinya aku melihat jubahmu yang kekuningan. Kota Paris nampak kelabu namun kau menyalakan cahaya pada pepohonan.

Musim gugur adalah musim patah hati. Entah dimana aku pernah mendengar kalimat itu. Mungkin karena saat kau datang, hujan sering turun, langit kelabu, dan pepohonan menantikan saat tidur panjang.

Bagaimana menurutmu? Apakah kau memang seperti itu?

Karena bagiku, kau bukan musim patah hati. Kau hanyalah musim tentang hal-hal indah yang sementara. Warna-warna daunmu seperti salam perpisahan, sebelum dedaunan meninggalkan ranting-ranting, memberi jalan pada beku dan dingin.

Rasanya sakit memang, menjalani sesuatu yang pasti kita tahu akan berakhir. Tapi bukankah di dunia ini semua hanya sementara? Untuk itulah ada ungkapan carpe diem, seize the day, kan?

Tidakkah kau ingin sedikit mengubah anggapan orang tentangmu, musim gugur? Setidaknya supaya mereka tak lagi memandang langit kelabu, tetapi juga mendengar kersik daun di bawah sepatu. Setidaknya supaya mereka tak hanya merasakan hujan, tetapi juga kehangatan di depan perapian.

Setidaknya katakan pada mereka, jatuh cinta itu menyenangkan, meski kadang perpisahan tak bisa dihindarkan. Bukankah karena itu, jatuh cinta butuh keberanian?

Termasuk keberanian untuk melepaskan. Seperti pepohonan melepaskan dedaunan.



3 Feb 2016

Surat #3: Untuk Pria Muda di Atas Kereta Menuju Versailles

Kita bertemu di atas kereta dari Paris menuju Versailles. 

Waktu itu pertengahan musim dingin. Salah satu musim dingin terburuk di Eropa selama sepuluh tahun terakhir. Aku, berdua dengan seorang teman, memutuskan pergi ke Versailles. Kami memilih berangkat dari Paris dengan kereta paling pagi. Itu adalah kali pertama kami menaiki RER, kereta komuter yang menghubungkan Paris dengan kawasan sub-urban. Seperti biasa, aku duduk di dekat jendela. Di luar, salju menutupi halaman dan atap rumah, mengubah pemandangan menjadi seperti lukisan di kartu-kartu natal.  

Kau duduk di depan kami.

Aku tidak pernah tahu namamu. Yang aku ingat, rambutmu sewarna jagung, dan matamu biru, biru yang pucat, seperti warna langit musim semi kesukaanku. Kalau tidak salah, tinggimu sedang, dan kau suka tersenyum.

Pertemuan itu terjadi lima tahun yang lalu.

Kalau aku mengingatnya sekarang, aku menyadari ada perjalanan-perjalanan yang menyisakan penyesalan. Misalnya, aku tidak sempat mengejar Nicky Byrne di Dublin, aku tidak mengunjungi Edinburgh saat belajar di Inggris kemarin, termasuk aku tidak berkenalan denganmu sebagaimana seharusnya. Mungkin karena tinggal di Perancis selama tiga bulan dulu adalah pengalamanku yang bertama. Bahasa Inggrisku pas-pasan dan aku masih seorang pemalu.

Tapi waktu itu, kau begitu baik.

Kami, dua orang asing, sering sekali merasa kebingungan di Perancis. Bahasa Perancis kami hanya sebatas berguna untuk berbelanja di Franprix atau membeli tiket metro. Seperti hari itu, kami ketakutan karena sepertinya perjalanan kereta sudah berlangsung lama tapi tidak juga sampai di Versailles. Temanku yang menyapamu lebih dulu, menanyakan stasiun dimana kami seharusnya turun. Pembicaraan itu berlanjut. Selama ini kebanyakan orang akan menggeleng kalau kami bertanya, "Parlez Anglais, Monsieur?" Tapi kau adalah salah satu dari sedikit pria Perancis yang mau bicara bahasa Inggris. Kau bilang, kau juga akan turun di stasiun itu. Kau mahasiswa Master di Paris, tapi orangtuamu tinggal di desa dekat Versailles. Hampir setiap akhir minggu kau mengunjungi mereka.

Ingatkah kau tentang pertemuan kita? Ingatkah kau padaku yang hanya bisa memandangmu malu-malu, mendengarkan aksenmu yang lucu? Ingatkah kau, ketika kau turun dari kereta, kau masih sempat menunjukkan arah kepada kami, sebelum kau sendiri lenyap di tikungan?

Hari itu di Versailles turun salju. Hari itu penyesalanku bertambah satu.







2 Feb 2016

Surat #2: Untuk Kucing Kecil Bernama Cing-Ku



Cing-Ku, malam tadi, aku sedang menunggunya ketika aku melihatmu di bawah gerobak penjual nasi goreng. Kamu begitu kecil, basah, bingung dan sendirian. Ketika dia datang, aku menunjukkanmu padanya. Reaksinya sudah kuperkirakan. Dia jatuh iba padamu, Cing-Ku.

Ketika kau bergerak mendekati kami yang sedang makan sate padang, dia memelukmu dengan kedua kakinya. Awalnya aku pikir, tindakannya itu menyakitimu. Siapa tahu kau merasa sesak dihimpit sepatu seperti itu. Tapi dia bilang, kau pasti merasa lebih hangat. Dan, benar, kau duduk diam-diam, tidak lagi menangis. Ketika dia beranjak untuk mengembalikan piring ke uda penjual sate, kau seperti kebingungan.

Semalam, dia begitu memikirkanmu, Cing-Ku. Dia memintaku memeliharamu, tapi tidak mungkin, pemilik rumah kosku tidak akan mengijinkan. Tapi, dia adalah pria yang keras hati. Menurut dia, setidaknya untuk malam ini saja, aku harus mau menampungmu, sampai kau cukup sehat untuk hidup sendirian di jalanan. Aku jarang sekali menolak permintaannya, termasuk keinginannya untuk merawatmu.

Akhirnya aku setuju memberimu tempat, meski hanya untuk semalam.

Cing-Ku, kau tahu apa yang dia lakukan kemudian? Dia kembali ke kantornya, mencari kardus dan tempat minum untukmu. Dia menaruh kain dan tumpukan tisu dalam kardus itu. Tentu saja agar kau bisa tidur di dalamnya dan merasa hangat. Dalam perjalanan menuju rumah kosku, kami mampir ke toko dan membelikanmu susu. 

Kami memang harus menaruhmu di depan kos, tidak membawamu ke dalam. Tapi, sepertinya itu sudah sangat menolongmu. Kamu segera tertidur segera setelah aku mengeringkan badanmu dengan tisu. Menyebalkan sekali, dia yang berkeras merawatmu, tapi dia tidak mau menyentuhmu karena tidak ingin tangannya kotor. Tapi, mungkin karena dia tahu aku suka perkerjaan merawat makhluk hidup. Sama seperti aku merawat bunga matahariku dulu. Dia baru akan menyiram bunga-bunga itu kalau aku sedang tidak ada di rumah.

Sebelumnya juga pernah terjadi seperti ini. Suatu hari dia tiba-tiba menelepon, hanya untuk memberitahu aku ada seekor anjing masuk halaman rumahnya. Anjing itu duduk tanpa tenaga di sudut dekat tembok. Dia bertanya apakah anjing ini lapar. Kubilang, mungkin iya. Kalau ada masakan berkuah daging, anjing itu pasti akan makan dengan lahap. Kebetulan hari itu ibunya memasak gulai. Dia memberi makan anjing itu dengan nasi bercampur kuah gulai. Katanya anjing itu makan sampai dua piring. Setelah makan, anjing itu pergi dengan lebih bersemangat.

Pernah juga dia menolong seekor burung kecil yang belum pandai terbang. Dia mengambil burung itu dari tengah jalan dan membawanya ke pinggir. Katanya, supaya burung itu tidak terlindas sepeda yang sering lewat.

Oh ya, dia memberi nama anjing itu Jing-An. Tidak kreatif memang, tapi menurutku itu lucu. Dan, kau tahu, itulah kenapa aku memberimu nama Cing-Ku. 

Pagi tadi, dia menyempatkan diri mengingatkanku untuk memberimu makan. Tapi rupanya kau lebih suka berbaring di antara tumpukan kain dan tisu itu. Ah, kau beruntung bertemu dengan dia, Cing-Ku. Kalau bukan karena dia, belum tentu aku akan memungutmu. Dia memang kadang keras kepala, tapi, Cing-Ku, dia adalah pria paling lembut hati yang pernah ku kenal. 

Kepada pria seperti ini, tidak salah kan jika aku menaruh hati?